Jumat, 13 Juli 2012

An Alternatif Leader




Memilih pemimpin alternatif.

Kemarin liat sebuah newsflash dari metro tv yang mengajak kita memilih presiden alternatif karena dikhawatirkan kalau di 2014 nanti calon presiden yang ada merupakan calon presiden yang juga ikut bertarung pada pemilihan presiden di 2009 kemarin. Orangnya yang itu – itu saja.
Di berita tersebut kita diajak mellihat calon presiden dari 2 golongan yaitu golongan pengusaha (yang pada berita itu di wakili oleh sandiaga uno, chairul tanjung, dan satu lagi saya lupa) dan golongan akademisi (yang diwakili oleh anies baswedan rektor Paramadina, komaruddin hidayat rektor UIN dan firmansyah mantan dekan FEUI).

Yang mau saya bahas adalah pemilihan golongan akademisi sebagai seorang pemimpin. Saya sebenarnya kurang setuju dengan pendapat ini karena bagi saya akademisi sebaiknya tidak menjadi pemimpin. Akademisi harusnya tetap sebagai akademisi (kalau mentri saya mungkin bisa menerima) bukan sebagai pemimpin suatu negara

Negara kita, menurut saya, kurang berjodoh dengan pemimpin dari golongan akademisi. Pemimpin sukses yang pernah memerintah kita ada 2 orang. Yaitu bapak soekarno dan bapak soeharto. Diluar segala kontroversi yang ada di balik pemerintahan mereka, tapi tidak bisa dipungkiri mereka lah yang membawa nama indonesia ke kancah internasional. Presiden – presiden  sesudahnya hanya melanjutkan apa yang telah diperbuat oleh dua orang tersebut.

Dan bisa kita lihat, kedua orang itu tidak ada yang berasal dari golongan akademisi. Yang satu merupakan aktivis dan pendiri parpol, sedangkan yang satu lagi adalah seorang  jendral besar militer dengan bintang empat.

Satu – satunya presiden yang berasal dari pihak akademisi adalah bapak BJ Habibie. Tidak bisa dipungkiri kalau bapak Habibie merupakan anak indonesia yang berotak super brillian dan sangat berintegritas. Tetapi pemerintahan bapak Habibie hanya sebentar karena beliau adalah pengganti pak harto yang digulinggkan oleh mahasiswa pada masa reformasi. Sebentarnya pemerintahan pah Habibie juga dipengaruhi oleh banyaknya orang yang tidak sesuai dengan orang – orang di sekitarnya. Pola pikir pak habibie yang sudah sangat maju tidak bisa diterima dengan orang – orang yang sudah korup dan rusak hati dan pikirannya di masa Orba. Dan pak habibie pun akhirnya tidak bisa melanjutkan tugasnya menjadi presiden Indonesia.
Inilah akademisi. Mereka memiliki pikiran – pikiran yang maju dan cemerlang untuk kebaikan bangsa, tetapi mereka tidak bisa mewujudkannya karena bangsa itu sendiri. Hal yang sama saya lihat pada dosen – dosen saya di kampus yang selalu terbentur entah dengan birokrasi, atau peraturan bahkan UU. Mereka akhirnya hanya bisa ngedumel tentang masalah ini pada mahasiswanya yang ga tau apakah ngedumel itu bermanfaat bagi siswanya atau tidak.

Akademisi bagi saya adalah orang suci, santo yang bisa mengarahkan manusia – manusia bodoh menuju kebenaran. Mereka tidak boleh dikotori dengan sampah – sampah politik. Karena jika mereka sudah kotor kepada siapa lagi rakyat belajar? Akademisi lah yang mempunyai peran penting dalam kehidupan rakyat indonesia. Karena itu mereka dihargai sangat tinggi diluar negri, tapi tidak di sini di negrinya sendiri. Di zaman sahabat nabi saja, para ulama yang berilmu itu tidak ada yang mau menjadi pemimpin/khalifah, maka kalo ada akademisi yang ngotot mau jadi pemimpin, pasti ada maksud lain dibelakangnya. Memang tidak semua akademisi adalah orang suci, ada juga yang hanya menjadikan peran akademisi sebagai ladang uang saja, tetapi kalau masih ada orang – orang seperti pak anies baswedan atau pak firmansyah atau dosen saya, kita masih bisa optimis dengan kebaikan seorang  akademisi (saya tidak tahu banyak tentang pak komaruddin hidayat). Kalau kata dosen saya, dosen juga perlu makan, kalau Cuma mengandalkan gaji perut ga bisa terisi.


Jadi dari alternatif calon presiden diatas saya pilih siapa? Menurut saya mungkin pilihan terbaik ada pada golongan pengusaha atau kader parpol. Tetapi liat juga pribadinya, kalau pengusaha busuk atau parpol busuk juga ngapain di suruh mimpin negara, bisa – bisa negara ikutan busuk. Rakyat sekarang sudah cerdas, media sudah terbuka, yang bisa ditutup – tutupi semakin lama semakin sedikit, kalau masih salah pilih ya  itu salah sendiri :P

3 komentar:

Firdaus Ridwan mengatakan...

Kalau awak lebih setuju bang luthfi jadi pemimpin.

Tenang fi, awak siap jadi tim sukses untuk 2014.

Hidup Luthfi !!!

Luthfi mengatakan...

wakakakak

bang da, klo awak yang dipilih, berarti ko dah salah pilih la itu.

awak bukan kader parpol. pengusaha apalagi...

pilih yang pasti - pasti aja bang da, kaya bos mu dulu..pak DIS misalnya. :)

tesa mengatakan...

ayo semangat trus untuk negeri Indonesia